Taufickcilacap's Blog

PENGEMBANGAN POTENSI PARIWISATA LOKAL BERORIENTASI AGAMA, BUDAYA, DAN PEMBERDAYAN | Januari 17, 2009

my self

Moh. Taufick Hidayatulloh

Pendahuluan

Pada awalnya, pariwisata merupakan kegiatan yang hanya dilakukan oleh segelintir orang-orang yang relatif kaya pada awal abad ke-20, namun kini telah menjadi kebutuhan pokok manusia, bahkan menjadi bagian dari hak azazi manusia, sebagaimana dinyatakan oleh John Naisbitt dalam bukunya Global Paradox yakni bahwa “where once travel was considered a privilege of the moneyed elite, now it is considered a basic human right. Hal ini terjadi tidak hanya di negara maju tetapi mulai dirasakan pula di negara berkembang termasuk pula Indonesia.

Karena telah menjadi bagian hari HAM, maka pemenuhan kebutuhan pokok tersebut juga menjadi tuntutan setiap individu, dan perlahan namun pasti, bergerak tuntutan atas pelayanan dari pihak eksternal, dalam hal ini negara dan kelompok bisnis pariwisata, untuk memberikan “pelayanan” yang lebih bagi dunia pariwisata, sehingga tercipta jaminan rasa nyaman bagi semua orang untuk mengekspresikan hak individunya tersebut.

Merespons kebutuhan pokok tersebut, berbagai pihak berlomba untuk membuat program terobosan dalam rangka meningkatkan sektor pariwisata, karena harus diakui bahwa hal itu sangat signifikan dalam membangun perekonomian. Pengembangan pariwisata memiliki efek ganda (multiple effect) berupa terbukanya lapangan kerja yang luas, masuknya investasi, meningkatkan pendapatan daerah dan devisa negara, meningkatkan pengetahuan masyarakat, berkontribusi dalam melestarikan budaya, serta mendukung pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.

Dari data statistik Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, pada tahun 2007, jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia adalah sebanyak 5.505.759. dengan perhitungan lama tinggal wisatawan di Indonesia rata-rata adalah 9,02 hari, dan pengeluaran harian per orang rata-rata 9,02 USD, maka paling tidak dalam satu tahun negara kita memperoleh keuntungan devisa dari wisatawan mancanegara (wisman) sebesar 5.345,98 juta USD. Satu angka yang tidak bisa dibilang kecil.

Dari kunjungan wisman tersebut, menggeliatlah kegiatan bisnis perhotelan, kerajinan tangan, biro perjalanan, jasa pemandu wisata, catering, teknologi informasi, pentas seni dan budaya, perdagangan, industri kecil hingga besar, serta kegiatan produktif lain menggairahkan potensi ekonomi dan menyerap begitu banyak tenaga kerja di berbagai sektor. Belum lagi jumlah wisatawan domestik (wisatawan dari dalam negeri) yang juga tidak kalah perannya dalam pengembangan perekonomian negara.

Belajar dari Mekah, Kamboja hingga Purbalingga

Kota Mekah (Makkatul Mukarromah), pada awalnya merupakan padang gersang dan tandus yang -nyaris- tidak memiliki potensi untuk berkembang secara ekonomi, berbeda dengan Palestina dengan tanah yang subur dan sumber air yang melimpah, sehingga ramai dihuni manusia karena di sana pertanian dan peternakan berkembang dengan pesat. Di pusat titik gersang dan tandus itulah, Hajar, ibunda Ismail AS menemukan titik air yang kemudian disebut Zam-Zam, dan kemudian Ibrahim AS membangun pusat peribadatan tempat orang menyembah Alloh SWT, Baitullah Ka’bah.

Seiring perkembangan waktu, pusat peribadatan tersebut ramai dikunjungi orang dari berbagai belahan jazirah Arab, serta menjadi pusat persinggahan para kafilah (rombongan) dagang yang melintas, dan dari situlah berkembang tukar menukar komoditas, usaha perdagangan, jasa penginapan, jasa pengamanan, dan sebagainya, sehingga jadilah Makkatul Mukarromah yang semula sepi, gersang dan tidak berpenguni menjadi kota yang senantiasa ramai dengan denyut perekonomian yang bergerak nyaris 24 jam.

Penduduk Mekah yang semula malas dan memliki etos kerja rendah tertantang untuk berperan aktif memanfaatkan situasi tersebut dengan turut menggerakan roda perekonomian, sehingga etos kerja dan pengetahuan masyarakat Mekah meningkat tajam, agar tidak tertinggal dan mampu menjadi tuan di rumah sendiri. Hal itu terus berkembang sampai sekarang (apalagi saat musim haji), dan dari situlah kemudian geliat perekonomian Mekah menyebar ke semenajung Jazirah Arab, sehingga saat ini kita melihat Saudi Arabia menjadi salah satu negara kaya di dunia.

Kamboja, merupakan negara kecil dengan potensi minim di segala bidang. Sepanjang sejarah diwarnai intrik politik dan pertumpahan darah, dan puncaknya, pada saat di bawah kekuasaan rezim diktator Polpot, jutaan nyawa raknyatnya melayang dalam pembantaian dan penyiksaan, sehingga di hampir seluruh penjuru negara Kamboja terdapat kamp-kamp penyiksaan serta kuburan massal.

Kini, Kamboja tengah menggeliat, menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup mencengangkan di kawasan Asia Tenggara, dan menjadi negara berkembang yang mulai dilirik sebagai tujuan investasi negara maju. Kamboja bangkit dengan etos kerja rakyat yang tinggi, dan Kegiatan Pariwisata yang mendunia serta diminati wisatawan mancanegara dari penjuru dunia. Tidak tanggung-tanggung, Kamboja mengekploitir sedemikian rupa denyut penderitaan rakyat Kamboja di bawah Rezim Pol Pot dengan menjual Paket Wisata ke Kill Field, yakni bekas pusat-pusat Kamp Penyiksaan, Tempat pembantaian massal, Kuburan Massal, serta diorama penderitaan rakyat pada waktu itu, dan lokasi-lokasi seram tersebut selalu menjadi tempat paling dituju para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara, di samping Angkor Watt, Ibukota Kamboja tempo dulu (Khmer Empire) yang dibangun sekitar abad 9 sampai dengan 13 di Propinsi Siem Reap yang berupa komplek candi/kuil dengan semboyan One Million Tourist Will Be Coming To See It”, serta Tempat-tempat lain seperti : South Gate of Angkor, Elephant Terrace & King Leper, Angkor Thorn, Bayon Temple, Taphrom, Royal Palace, Istana Raja Kamboja, lembah sungai Mekong sebagai penunjang kepariwisataan.

Geliat perekonomian Kamboja bangkit, mengejar ketertinggalan dari negara lain, dengan bekal sejarah kelam masa lalu, serta obyek religius yang memang keduanya digarap dengan konsisten dan penuh estetika, untuk menarik minat orang luar untuk berkunjung ke Kamboja.

Purbalingga sepuluh tahun lampau, secara ekonomi menjadi salahsatu Kabupaten di Jawa Tengah yang tidak diperhitungkan daerah lain. Pendapatan perkapitanya paling rendah dibanding kabupaten sekitar (Rp 652.333,77), dan lima tahun kemudian naik drastis tiga kali lapit menjadi Rp 1.894.848,60, melampaui daerah tetangga (Derap Perwira, 25 Agustus 2007).

Untuk mempercepat peningkatan perekonomian masyarakat, Pemerintah Kabupaten Purbalingga menempatkan sektor Pariwisata sebagai sektor andalan, dengan strategi utama membangun infrastruktur pariwisata seperti jalan dan fasilitas pariwisata, promosi, serta membangun tempat-tempat wisata baru dengan keterbatasan sumberdaya (resource) yang dimilikinya.

Dalam waktu lima tahun, Purbalingga membangun wahana wisata baru yang belum ada di kabupaten sekitar, antara lain ’Purbalingga Reptil & Insect Park’, Taman Buah Kutasari, dan Cottage Owabong. Tentu ini bukan sesuatu yang latah, karena memang sektor pariwisata yang dikembangkan Purbalingga secara ekonomi memang menguntungkan. Sebagi contoh, Obyek Wisata Owabong yang dibangun pada tahun 2003-2004 dengan anggaran Rp. 13,5 miliar pada tahun 2006 saja telah meraup keuntungan sebesar Rp. 5,7 miliar dan target pemasukan Rp. 10 miliar dari Owabong pada tahun 2007 dapat dicapai.

Tentu bukan hanya Pendapatan Asli Derah yang diperoleh Purbalingga, karena efek ekonomi dari obyek wisata tersebut benar-benar dinikmasi oleh masyarakat Purbalingga, sehingga kemudian kian berkembang sentra-sentra industri (baik pabrikan aupun rumah tangga), perdagangan, jasa, dan sebagainya. Kini, Purbalingga perekonomian Purbalingga melesat jauh, meninggalkan daerah sekitar, dengan tiga pilar utama, yakni Pariwisata, Pertanian dan Industri.

Bagaimana Dengan Cilacap?

Dibanding daerah lain di Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap memiliki aset dan potensi pariwisata yang jauh lebih lengkap dan beragam, serta berpeluang untuk menjadi raksasa industri pariwisata yang paling diminati di Jawa Tengah bagian selatan, baik oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan domestik.

Kita memiliki potensi Pariwisata yang begitu sempurna dan tidak dimiliki daerah lain di Jawa Tengah, antara lain :

1. Potensi eko wisata seperti :

  1. Pantai yang indah dan menawan di sepanjang Jetis Nusawungu hingga Teluk Penyu, bahkan pantai dengan pasir putih di Nusakambangan.
  2. Goa dan batu karang yang indah, tua dan bersejarah di sepanjang pantai dan pegunungan di Bukit Selok, Bukit Srandil, dan Nusakambangan.
  3. Hutan dan Perkebunan sebagai wisata Konservasi Sumber Daya Alam Hayati beserta Ekosistemnya, Taman Hutan Raya, pertanian, dan perkebunan di Daerah Cilacap sebelah utara (Sepanjang Kecamatan Dayeuh Luhur hingga Cimanggu), serta Cilacap bagian tengah (Cipari, Gandrungmangu, Jeruklegi, Kesugihan)
  4. Sumber Air yang bisa dikembangkan untuk potensi pariwisata air terjun, arung jeram, peternakan ikan tawar dan ikan asin, konservasi binatang air yang langka, pusat pembibitan ikan modern, waterboam, pusat pemancingan, pusat penangkaran binatang laut yang langka dan dilindungi (misalnya penyu, dan buaya), pusat pembibitan/pembiakan binatang laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi (misalnya udang dan kepiting), dan sebagainya.
  5. Areal Hutan payau (mangrove) di Kabupaten Cilacap merupakan kawasan mangrove terbesar di Asia, dan selama ini belum diekplorasi secara maksimal untuk pengembangan kepariwisataan, bahkan WISATA HUTAN PAYAU di Cilacap Utara (Tritih) yang beberapa tahun lampau sangat dikenal, dan cukup menjadi alternatif bagi sarana wisata murah bagi masyarakat kini terbengkelai.
  6. Hamparan Samudera Indonesia dengan :

1). Terumbu karang dan pemadangan bawah laut menawan yang sangat mungkin dikembangkan untuk pusat wisata menyelam (surving).

2). Ombak/gelombang dan angin laun yang sangat mungkin dikembangkan potensi olahraga selancar dan perahu layar di Jawa Tengah

3). Laut yang bening, dalam dan luas yang sangat mungkin dipromosikan sebagi pusat pemancingan lepas pantai, dsb.

2. Potensi wisata sejarah, misalnya benteng pertahanan di Bukit Selok, Benteng Pendem di Areal Teluk Penyu dan –mungkin- daerah lainnya, situs-situs purba yang banyak ditemukan masyarakat dan selama ini belum dieksplorasi secara optimal, serta tempat-tempat yang dimunginkan sebagai napak tilas jejak perjuangan para pendiri bangsa.

3. Wisata Industri, yakni dengan banyaknya pabrik-pabrik berskala nasional dan internasional di Kabupaten Cilacap yang memungkinkan mampu menjawab keingintahuan masyarakat akan geliat industri di Kabupaten Cilacap, serta memungkinkan sebagai tempat favorit bagi untuk praktek lapangan (outbond) bagi kalangan pelajar.

4. Wisata Budaya, dengan banyaknya perayaan (efent) tradisi di Cilacap, baik tradisi dilingkungan petani maupun nelayan, serta dengan menciptakan efen kebudayaan kontemporer berskala nasional, bahkan internasional.

5. Wisata religi, dengan banyaknya makam para tokoh penyebar agama, goa-goa tempat persemedian dan pemujaan, banyaknya tempat-tempat keramat, serta beberapa pesantren tua dan bersejarah yang bisa juga dijadikan obyek wisata khusus yang berpotensi mengembangkan perekonomian masyarakat sekitar.

6. Wisata research and develompent, misalnya dapat dilakukan dengan membangun pusat-pusat penelitian biota laut dan batu karang, mengembangkan desa budaya (cultural village), laboratorium minyak bumi, Laboratorium aspal, dan sebagainya.

7. Wisata Kuliner dan jajanan tradisional khas Cilacap dan asli produk lokal.

Rekomendasi

Melihat potensi tersebut di atas, tentu bukanlah mimpi jika kesemuanya dikemas secara matang, bukan tidak mungkin menjadikan Cilacap lari jauh, meninggalkan daerah lain di Jawa Tengah dalam hal Pariwisata, dan tentu saja secara ekonomi akan mampu memberi sumbangsih yang besar bagi peningkatan pendapatan perkapita masyarakat, serta meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.

Untuk itu, paling tidak diperlukan hal-hal sebagai berikut :

1. Perlunya kemauan politik (political will) Pemerintah Kabupaten Cilacap untuk menjadikan Pariwisata sebagai program unggulan, serta kemauan untuk berkomitmen bersama dari semua elemen baik dari pemerintah, swasta maupun masyarakat untuk menjadikan pariwisata sebagai asset yang mempunyai potensi besar dan dapat memberikan manfaat yang banyak bagi semua pihak. Bagi masyarakat, pariwisata dapat memberikan kesempatan atau peluang untuk bekerja dan berusaha serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, bagi pemerintah pariwisata dapat memberikan andil yang sangat besar bagi Pendapatan asli daerah (PAD), bagi swasta pariwisata merupakan peluang untuk mengembangkn usaha yang lebih besar lagi.

2. Bahwa keberhasilan pengembangan Kepariwisataan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni

  1. Tersedianya obyek dan daya tarik wisata,
  2. adanya fasilitas accesbility yaitu sarana dan prasarana yang memungkinkan wisatawan mengunjungi suatu daerah atau kawasan wisata dan;
  3. tersedianya fasilitas amenities yaitu sarana kepariwisataan yang dapat memberikan kenyamanan pelayanan kepada masyarakat.

maka suatu keharusan bagi pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dalam rangka pengembangan pariwisata. Tanpa hal itu, nonsens pengembangan kepariwisataan dilakukan secara optimal.

3. Sumberdaya Manusia (SDM) memegang fungsi yang sangat dominan dalam segala hal. Suatu kegiatan tanpa didukung oleh adanya sumber daya manusia yang berkualitas, maka peningkatan kualitas SDM kepariwisataan menjadi kunci keerhasilan atas pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Cilacap.

4. Dalam pasal (3) Undang-undang No. 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan dinyatakan bahwa : “salah satu tujuan dari pengembangan kepariwisataan adalah untuk memperkenalkan, mendayagunakan, melestarikan dan meningkatkan mutu obyek wisata dan daya tarik wisata” yaitu melalui kegiatan promosi pariwisata

Peningkatan promosi mengenai potensi potensi obyek wisata yang ada di Kabupaten Cilacap melalui berbagai moment, baik dalam cakupan regional maupun nasional bahkan internasional merupakan kunci keberhasilan program pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Cilacap. Dengan promosi maka semua pihak akan dapat mengetahui apa saja yang ada di Cilacap terutama potensi wisatanya.

5. Untuk dapat mengembangkan kepariwisataan diperlukan adanya manajemen pelayanan tersendiri sehingga ada jaminan keamanan, kenyamanan dan pemberian pelayanan prima kepada para wisatawan. Wisatawan adalah customer yang harus dilayani secara baik dan memuaskan sehingga mereka mempunyai kesan tersendiri yang membekas di hati, sehingga mereka tidak merasa menyesal mendatangi obyek wisaya yang tersedia, sehingga kemungkinan untuk kembali ke tempat wisata yang dikunjunginya tinggi.

6. Membangun pola Kepariwisataan berbasis masyarakat (community-based tourism development), yakni melibatkan sebanyak-banyaknya partisipasi masyarakat dalam pengembangan dunia kepariwisataan.

Pola ini bertumpu pada tiga kegiatan pariwisata yakni adventure travel, cultural travel dan ecotourism. Ketiganya diyakini akan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat setempat sekaligus memelihara budaya, kesenian dan cara hidup masyarakat disekitarnya, menciptakan kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan membawa dampak positif terhadap pelestarian lingkungan dan budaya asli setempat yang pada akhirnya diharapkan akan mampu menumbuhkan jati diri dan rasa bangga dari penduduk setempat yang tumbuh akibat peningkatan kegiatan pariwisata.

Pola Kepariwisataan berbasis masyarakat juga mengharuskan adanya penghargaan, pelibatan, dan perlindungan budaya lokal, religuisitas, serta kearifan lokal (local wisdom) yang berkembang di masyarakat, sehingga tidak mengganggu jatidiri bangsa.

7. Harus dijalin kerjasama dengan pihak luar, baik Pemerintah Kabupaten/provinsi lain, atase/kedutaan besar negara sahabat, investor, dan semua stakeholder kepariwisataan.

Demikian, semoga bermanfaat bagi usaha pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Cilacap, sehingga mampu memberikan efek ganda (mbarokahi) bagi peningkatan perekonomian masyarakay. Amin.

Cilacap, 19Nopember 2008

MOH. TAUFICK HIDAYATULLOH


Makalah disampaikan pada Workshop Strategi Pemasaran Wisata Cilacap Dalam Rangka Pembangunan Daerah Dan Pemberdayaan Masyarakat, yang diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Lembaga Perekonoman NU di Hotel Griya Patra Cilacap Pada Tanggal 19 Nopember 2008

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Cilacap, Ketua Majelis Kesenian Kabupaten Cilacap, Ketua Forum Kerukunan Antar Umat Beragama Kabupaten Cilacap, Pemerhati Pariwisata dan Kebudayaan.

Iklan

Ditulis dalam PARIWISATA, Uncategorized

1 Komentar »

  1. Dahsyat.. mestinya jadi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan…

    Komentar oleh Bung Nashyr — Januari 17, 2009 @ 5:32 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

About author

be my self

Cari

Navigasi

Kategori:

Links:

Archives:

Feed

%d blogger menyukai ini: